Senin, 30 Agustus 2010

DUNIA TAKKAN PERNAH MENGERTI

di padang itu
kau berteman dengan sunyi
dengan angin sepoi, dengan rerumputan, dengan burung-burung yang melintas

kau memecahkan kesunyian
kau berteriak sekuat tenaga, "pulanglah!!! pulanglah!!!"
namun suaramu...hilang ditelan teriknya padang gurun itu

dan kau terdiam
dan kau tertunduk
meratap dalam kelam
merenungi dunia dgn khusuk

kau berteriak lagi "pulanglah!!!pulanglah!!! dia menanti kalian."
lagi
dan lagi
namun tahukah kamu, suaramu hilang di telan bukit-bukit pasir

dan kau terisak-isak
kau menangis
"dunia takkan pernah mengerti...yah...dunia takkan pernah mengerti," katamu.

Selasa, 24 Agustus 2010

HUKUM KARMA DAN HUKUM "TABUR-TUAI" MENURUT KATOLIK?

tadi siang saya mendapatkan sebuh pertanyaan di wall fb saya dari seorang teman: "ter, tanya, katolik kan ga percaya hukum karma.. nah apa bedanya hukum tabur-tuai sama karma?" saya akan menjawab pertanyaan itu di blog ini. jawaban yg akan saya berikan adl jawaban yg terbuka utk diskusi. blog ini lebih luas ruangnya utk diskusi daripada facebook, sekaligus ini bisa mjd arsip. kalau misalnya jwbn sy kurang memuaskan atau kurang lengkap, silakan tanyakan kembali.

Pertama, apakah katolik percaya karma? jawab: tidak. katolik percaya kepada Yesus dan keselamatan melalui Dia. dalam konsep Hindu/Buddha, karma adalah suatu hukuman atau ganjaran yang harus diterima dan dijalani setiap org sesuai dengan tindakan dan perbuatannya. utk mencapai nirwana, seseorang harus menjalani karma, atau semacam reinkarnasi.

dalam Kristen, tidak ada reinkarnasi atau karma itu. yang ada adl, Kristus telah wafat di kayu salib untuk menyelamatkan manusia. barangsiapa percaya padaNya akan selamat.

Kedua, apakah hukum tabur tuai itu? apakah itu sama dengan karma? harus ditegaskan, bahwa tema ttg hukum tabur-tuai ini tidak banyak dibahas dalam tradisi Katolik. para teolog Katolik tidak berminat membahas itu. tema itu lebih byk dibahas di kalangan Protestan. coba ketik di Google misalnya "tabur-tuai", kita akan sangat jarang menemukan ulasan orang Katolik ttg itu.

hukum tabur tuai kelihatannya (kesannya) hampir sama dengan karma. "kalau kau jahat di dunia ini, tempatmu nanti neraka." "kalau kau tak berbuat baik, kamu takkan menuai kebaikan." orang akan bilang begitu, dan sering menyamakan karma dengan tabur tuai. padahal, karma dalam Hindu tidak sebatas itu, jauh lebih rumit.

Ketiga, hukum tabur tuai menurut Paulus? Paulus, dalam suratnya kepada umat di Galatia mengatakan, "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (Gal 6:8)" apa yg dia maksud dengan hukum tabur tuai ini? kalau kita baca teksnya keseluruhan, kita akan menemukan bahwa Paulus sebenarnya berbicara tentang "berbuat baik", tentang nilai moral, tentang cinta kasih kepada sesama. yang mau ditekankan Paulus ialah, orang-orang Kristen sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, hendaknya berlomba-lomba utk berbuat baik, hendaknya selalu menabur kebaikan. jadi, bukan persoalan hidup di akhirat, tapi tentang relasi dengan sesama.

kepada umat di Korintus dia berkata, "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.II Kor 9:6)." hal ini juga dia katakan dalam konteks "pelayanan". orang-orang Korintus sebagai orang-orang yang telah percaya kepada Kristus, hendaknya berlomba-lomba melayani dengan suka cita, jangan menghitung-hitung jasanya, perbuatan baiknya. karena jika seseorang semakin banyak berbuat baik dengan tulus, dengan sendirinya ia akan menuai hasilnya.

Keempat, hukum kehidupan. secara manusiawi dan secara kodrati, hukum tabur tuai itu sangat nyata dalam kehidupan kita. itu semacam nilai yg hidup di masyarakat kita, bahkan di penjuru dunia. pepatah Latin mengatakan, do ut des (aku memberi supaya aku diberi). hukum ekonomi mengatakan, saya akan menjual padamu kalau kau memberikan untung padaku.

sekian dulu...silakan tulis tanggapan, pertanyaan melalui komentar di bawah tulisan ini. mari kita menabur...menabur dan menabur.... Pemazmur berkata, "Orang yang menabur dengan bercucuran air mata, akan menuai engan sorak-sorai (Mzm 126:5)."

Senin, 23 Agustus 2010

nyanyikanlah lagu baru

manusia itu mahluk yang mudah bosan dengan sesuatu yang diulang secara terus-menerus secara monoton. manusia itu mahluk yang suka akan yang baru, suka menciptakan sesuatu yang baru, suka akan petualangan terhadap hal-hal baru.

dalam beriman juga seperti itu. banyak orang mengalami kebosanan dengan liturgi, dengan tata cara yang monoton, dengan lagu-lagu yang "kuno" dan itu-itu saja. banyak orang malas ke gereja (terlebih anak-anak muda) karena merasa bahwa acara gereja itu membosankan, tidak ada sesuatu yang baru.

mazmur 96 mengajak kita untuk menyanyikan lagu baru. lagu baru tentang apa? tentang cinta kasih Allah, tentang keagungan Allah. yah...di tengah zaman yang melelahkan ini, zaman yang serba cepat ini, kita ditantang untuk menciptakan sesuatu yang baru, juga dalam hal beriman. kita ditantang untuk "menyanyikan lagu baru", mewartakan kepada dunia, bahwa Tuhan itu agung dang mahakasih.

kalau kita loyo, kalau liturgi kita tidak diperbarui, kalau anak-anak kita tidak diajak untuk menyanyikan lagu baru, beriman dengan semangat baru, maka kita akan bosan dalam hidup beriman.

mari kita menciptakan penghayatan iman yang senantiasa baru dalam hidup kita, dalam gereja kita. bukan hanya para pastor, suster, pemdeta, pemuka jemaat yang harus dituntut untuk menciptakan suasana baru dalam hidup menggereja. tetapi kita semua, diundang untuk menyanyikan lagu baru, penuh semangat, mewartakan kepada dunia ini, bahwa Tuhan itu hidup, agung dan mahakasih.

syalom, Tuhan memberkati!

Sabtu, 21 Agustus 2010

SALING "MEMBASUH KAKI"

Rendah hati??? Ah, aku merinding mendengarnya. Mungkinkah manusia rendah hati? Tidakkah ia cenderung tinggi hati, cenderung meninggikan diri, cenderung memamerkan dirinya sebagai yang lebih, sebagai yang hebat, sebagai yang luar biasa? Itulah yang kita lihat dalam kehidupan nyata. Terlebih lagi, itulah manusia ideal yang diagung-agungkan zaman ini. Barangsiapa hebat, kaya, berkuasa, ia layak menjadi tinggi hati.

Apakah kita harus tunduk kepada dunia ini? Kita bisa memilih. Kita dikaruniai akal budi dan hati nurani. Yang pasti, ada Seseorang yang tidak tunduk kepada kesombongan dunia ini, yaitu Dia yang membasuh kaki para muridNya itu. Ia mewujudnyatakan, bahwa kerendahan hati itu mungkin. Dia membasuh kaki para muridNya, Dia melayani mereka.

"Kalau kita saling melayani dan membasuh kaki dengan rendah hati, kita menerima berkat dari Allah. Kita dekat dengan Allah dan hidup di hadirat Allah. Kita menjadi seperti ALlah, hati kita mengalirkan kasih, kita meneruskan kasih Allah." (Jean Vanier).

Jumat, 20 Agustus 2010

katakan pada dunia...

Kita tak boleh lari dari dunia yang hiruk pikuk ini....Kita harus masuk ke dalamnya, larut di dalamnya, tetapi tidak hanyut ditelannya. Kita dipanggil menjadi saksi di tengah dunia ini.

Katakan kepada dunia, bahwa ada kehidupan yang lebih bernilai daripada hidup yang hedonis, konsumeristis itu. Katakan kepada dunia, bahwa ada kehidupan yang lebih agung daripada hidup di bawah naluri darwinistik (yang kuat yang menang) dan mentalitas homo homini lupus (manusia yang satu menjadi serigala bagi yang lain) itu.

Ada cinta kasih, ada pengampunan, ada syalom di tengah dunia yang rapuh ini. Katakan dan tunjukkan kepada dunia, bahwa sebenarnya LA VITA E BELLA (hidup itu indah).

syalom, Tuhan memberkati!

Rabu, 18 Agustus 2010

gembala

Aku dulu seorang gembala kambing dan kerbau. Menggembalakan kerbau tidak begitu sulit. Mereka mudah diatur. Bahkan sangat menyenangkan. Kita bisa naik di atasnya sambil main seruling atau tidur-tiduran. Mereka juga bisa menarik pedati sambil membawa barang.

Tidak demikian dengan kambing. Kambing merupakan binatang yang nakal. Jika kita menariknya ke selatan, mereka akan lari ke utara. Kadang-kadang mereka menarik talinya dengan sangat kencang sehingga kita terjatuh. Kadang juga mereka menghabiskan tanam-tanaman seperti cabe, kacang, daun ubi. Memang, kambing itu sering menjengkelkan.

Namun meski menjengkelkan, seorang gembala yang baik akan tetap menuntun mereka, menjaga mereka dari serangan binatang buas. Apabila ada yang sakit, sang gembala akan mengobatinya.

Inilah panggilan seorang gembala, menuntun gembalaannya seperti apa pun perilakunya. Seorang gembala yang baik menuntun, menjaga, juga menyembuhkan gembalaannya. Hal inilah yang seharusnya tampak dalam diri setiap pengikut Kristus, karena kita semua dipanggil menjadi gembala satu sama lain. Yang termasuk gembala bukan hanya pastor, pendeta, tetapi kita semua.

Mazmur 23 yang kita renungkan hari ini adalah Mazmur yang harus melekat, tertanam dalam diri kita. Mazmur ini berkisah tentang kebaikan Sang Gembala Agung kita, Tuhan sendiri. Betapa baik gembala kita itu, Ia tetap menjaga kita supaya kita takkan kekurangan. Sayang sekali, kita seringkali meninggalkan sang Gembala itu. Kita sering menjadi kambing kehidupan. Mari, kita kembali lagi menjadi kerbau atau domba, yang pergi mengikuti kehendak Sang Gembala. Mari kita belajar menjadi gembala bagi diri kita dan bagi yang lain!

Syalom, Tuhan memberkati

Selasa, 17 Agustus 2010

YESUS: SANG PEJUANG KEMERDEKAAN

Sejarah kita adalah sejarah penindasan! Kita dulunya (bahkan sekarang juga) adalah bangsa terjajah, bangsa tertindas. Saya sulit membayangkan 350 tahun lamanya kita dijajah Belanda, lain lagi 3,5 tahun dijajah Jepang, lain lagi dijajah Portugis dan Inggris. Ya, sulit saya bayangkan bahwa dalam waktu yang sangat lama, nenek moyang kita dulu mejadi budak, menjadi pekerja paksa, diperas hasil keringatnya. Bahkan yang sangat mengenaskan, banyak para gadis bangsa kita dulu dibuat menjadi budak seks para penjajah. Itulah sejarah hitam bangsa ini!

Hari ini, kita peringati kemerdekaan Indonesia. Syukur kepada Tuhan, terima kasih kepada para pahlawan kita. Mereka adalah orang-orang yang berani mengorbankan nyawanya atas nama kemerdekaan. Mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti makna sebuah perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan.

Memang, dunia ini penuh dengan sejarah penindasan, tetapi juga penuh dengan sejarah para pahlawan. Salah satunya pahlawan itu ialah Yesus sendiri. Dia adalah Sang Pahlawan yang habis-habisan memperjuangkan kemerdekaan manusia. Perjuangan-Nya itu digenapi di kayu salib. Sangat mengenaskan!

Yesus datang ke dunia ini untuk “memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan...membebaskan orang –orang yang tertindas.” Pada zaman kedatangan Yesus dulu, orang-orang Israel dijajah bangsa Roma. Penindasan dialami rakyat kecil berlipat ganda. Bukan hanya dari penjajah Roma, tetapi juga dari para pemimpin agama mereka, orang Farisi, Lewi, para imam. Orang-orang miskin dikenai pajak double, dari penjajah dan dari para petinggi agamanya. Yesus melihat itu semua, lalu berjuang membebaskan mereka.

Lebih dalam lagi, perjuangan Tuhan Yesus sebenarnya ialah perjuangan untuk membuat manusia menjadi merdeka, bebas dari kuasa dosa. Kekuasaan dosalah yang sangat keji menindas manusia itu di segala waktu, tempat dan segala zaman. Di kayu salib, Dia genapi seluruh perjuangan-Nya, dan Ia akhirnya menang dalam kebangkitan.
Di zaman kita yang semakin keji ini, semakin menolak Tuhan ini, semakin dikuasai dosa ini, semakin banyak orang yang terjajah. Terjajah oleh harta, terjajah oleh hedonisme, terjajah oleh nafsu dan kuasa. Apakah Tuhan tidak datang lagi untuk menjadi pembebas di tengah zaman kita ini? Ia tetap hadir, berjuang memerdekakan kita. Namun dunia menolak-Nya.

Menerima Yesus dan memasrahkan hidup kita pada-Nya akan menjadikan kita orang-orang merdeka dari kuasa dosa. Salam kemerdekaan!

Syalom, Tuhan memberkati.