Sabtu, 04 Juli 2015

KETIKA TUHAN TIDAK BISA BERBUAT APA-APA

KETIKA TUHAN TIDAK BISA BERBUAT APA-APA

Ada banyak hal menarik dari Injil hari ini. Kita bisa merenungkan PENOLAKAN terhadap Yesus; bisa juga merenungkan KETIDAKPERCAYAAN orang-orang sekampung Yesus; kita bisa juga merasakan betapa MALU dan MARAHnya keluarga Yesus yang hadir dalam rumah ibadat itu melihat anggota keluarganya ditolak dan dilecehkan; dan kita bisa merenungkan betapa HERAN campur BINGUNG para murid Yesus melihat-Nya dan melihat reaksi orang-orang sekampung-Nya.
Saya mengajak Anda untuk merenungkan KEHERANAN dan KEBINGUNGAN para murid. Dalam Injil dua Minggu lalu, mereka melihat badai dan ombak dihardik oleh Yesus. Mereka melihat mukjizat besar. Pada Injil Minggu lalu mereka menyaksikan dua perempuan yang hampir mati diselamatkan oleh Yesus. Akan tetapi, hari ini mereka melihat orang-orang sekampung Yesus, orang-orang yang harusnya bangga terhadap-Nya, menghina dan menolak Yesus. Mereka heran dan bingung juga melihat Yesus yang tidak bisa berbuat apa-apa. Guru mereka yang hebat itu, yang telah mengadakan banyak mukjizat itu, ditolak dan dilecehkan justru di kampung-Nya sendiri.
Kita pun, sebagai murid-murid Yesus masa kini, seringkali heran melihat orang-orang yang menolak Yesus. Agama Kristiani bisa dianalogikan sebagai “tanah kelahiran” Yesus, “kampung” Yesus. Akan tetapi, justru di “kampung-Nya” itulah Yesus lebih banyak ditolak. Bagaimana kita tidak heran melihat orang-orang “sekampung Yesus” menolak Yesus dalam bentuk melakukan korupsi, baik kecil maupun besar? Bukankah menyedihkan melihat orang yang rajin ke gereja masuk penjara karena korupsi? Bagaimana kita tidak heran melihat para pengikut Yesus yang menjadi bandar Narkoba, pengedar dan penggunanya? Tidakkah juga mengherankan melihat pengikut-pengikut Yesus yang dengan bangga melegalkan dan merayakan pernikahan sejenis? Dan ada banyak bentuk penolakan lainnya.
Jangan kita mengira bahwa yang lebih banyak menolak Yesus adalah orang-orang non-Kristiani. Tidak! Yang lebih banyak menolak Yesus adalah orang-orang Kristiani sendiri, “orang-orang sekampung Yesus sendiri”. Kita juga bingung mengapa Yesus tidak melakukan apa-apa di kampung-Nya sendiri? Mengapa Dia membiarkan diri-Nya ditolak dan dilecehkan di hadapan para murid-Nya?
Saya merenungkan dua hal berikut. Pertama, Yesus tidak bisa berbuat apa-apa jika orang tidak memiliki iman. Rahmat dan iman itu bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tuhan kita itu bukan Tuhan yang memaksa, melainkan memberikan kebebasan kepada kita untuk berkata “ya” atau “tidak”. Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa terhadap orang-orang yang mengatakan TIDAK; Ia hanya bisa pergi meninggalkan orang-orang seperti itu, sebagaimana Ia meninggalkan orang-orang Nazaret itu. Terhadap orang-orang yang memilih jalan IMAN, yang berkata YA kepada-Nya, Ia datang untuk menyembuhkan, mengajar dan menuntun, serta mengadakan mukjizat-mukjizat di dalam hidup mereka.
Kedua, Yesus mengajar para murid-Nya untuk mencari jalan-jalan lain dalam mewartakan kabar gembira. Menjadi orang Kristiani tidak berarti selalu hidup sukses, menang, dipuji dan diterima. Menjadi pengikut Yesus adalah menjadi seperti Yesus, yang terkadang ditolak, dilecehkan, diludahi, namun tidak kehilangan misi dan harapan. Yesus selalu mencari jalan-jalan lain untuk mewartakan Injil. Ini satu inspirasi yang sangat penting untuk kita; ada banyak jalan lain untuk mewartakan kabar baik, mewartakan kasih. Kita harus mencarinya. 


Salamanca-Spanyol, 3 Juli 2015
Hari Minggu Biasa XIV
Pastor A.C. Lamtarida Simbolon, O.Carm 

Sabtu, 27 Juni 2015

Jangan Takut! Beriman Saja!

Jangan Takut! Beriman Saja!

Injil hari ini luar biasa indahnya, penuh dengan gambaran kemaharahiman Allah. Yesus menyelamatkan dua orang perempuan; satu perempuan yang menderita pendarahan 12 tahun, dan yang lainnya seorang putri berusia 12 tahun yang hampir mati. Keduanya orang-orang yang terpinggirkan. Yang satu terpinggirkan karena penyakit yang dideritanya, yang mengalami pendarahan dua belas tahun lamanya dan sudah menghabiskan semua harta yang dimilikinya untuk berobat, bukannya membaik malahan memburuk. Bukan hanya itu. Dia juga terpinggirkan di dalam agama. Pada waktu itu, darah dianggap sebagai lambang kekotoran atau ketidaksucian. Orang-orang yang “kotor” atau “tidak suci” tidak diperbolehkan masuk sinagoga untuk merayakan imannya. Yesus merobek sistem yang tidak adil ini.
Perempuan kedua ialah putri Yairus, kepala rumah ibadat, yang hampir mati. Gadis itu berusia dua belas tahun. Itu berarti mulai masa menstruasi, mulai menderita dan tidak akan diperbolehkan masuk rumah ibadat kalau mengalami mestruasi. Yesus menyelamatkan dia, menyembuhkan dia dan berkata kepadanya “Bangkitlah!” Penyakit, marjinalisasi dan kematian adalah tiga kata kunci Injil hari ini. Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkan orang sakit, menyelamatkan orang yang dipinggirkan dan membangkitkan orang mati.
Agar kita lebih mengerti Sabda Yesus hari ini, mari kita lihat sejenak apa yang terjadi pada masa ketika Markus menulis Injilnya. Pada waktu itu, orang-orang Kristiani disingkirkan, menderita dan dianiaya. Keadaan orang-orang Kristiani bagaikan dua perempuan yang sakit dan hampir mati dalam Injil hari ini. Orang-orang takut. Sebagian meninggalkan imannya karena disingkirkan dan dianiaya. Penginjil Markus mewarkatan kabar gembira bagi mereka, meneguhkan iman mereka: “Bangunlah! Yesus beserta kita! Jangan takut! Kita tidak sendirian! Bangkitlah!”
Bagaimana dengan situasi orang-orang Kristiani di zaman kita ini? Apakah bisa dikatakan bahwa orang-orang Kristiani di zaman ini juga berada dalam keadaan sakit seperti mereka yang berada di zaman penginjil Markus? Apakah bisa dikatakan juga bahwa Kristianitas di masa ini berada dalam ambang kematian seperti gadis dalam Injil hari ini? Harus dikatakan, pada umumnya, “ya”. Agama Kristiani semakin hari semakin kurang diminati di seluruh dunia. Orang-orang Kristiani, terlebih orang-orang muda, semakin tidak berminat pergi ke gereja dan merayakan imannya, bahkan tidak berminat mendengarkan hal-hal tentang Tuhan dan agama.
Melalui Injil hari ini, melalui perayaan liturgi hari ini, Yesus membangunkan iman kita. Dia tidak mau kita hilang, tidak mau kita ters-menerus berada dalam kesakitan dan hampir mati. Dia ingin kita semua memiliki iman yang teguh, hidup dalam harapan. Kata-kata yang disampaikan Yesus kepada perempuan yang mengalami pendarahan 12 tahun itu, disampaikan kepada kita masing-masing, “Anakku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dan sembuhlah dari sakitmu.” Dan kata-kata yang disampaikan kepada Yairus, juga disampaikan kepada setiap orang dari kita, “Jangan takut. Beriman saja.” Meskipun kita berada dalam situasi yang sulit, kita mohon selalu kepada Tuhan agar Ia menambahkan iman kita dan menjadikan kita saksi-saksi Allah yang hidup. Amin.

Salamanca-Spanyol, 27 Juni 2015
Hari Minggu Biasa ke XIII

Pastor A.C. Lamtarida Simbolon, O.Carm

Minggu, 21 Juni 2015

Tuhan pasti datang menyelamatkan kita

Tuhan pasti datang menyelamatkan kita

Sabda Tuhan itu berbicara tentang hidup kita, menyingkapkan banyak hal dan menyegarkan iman kita. Kita lihat Injil hari ini. Injil ini diawali dengan keterangan "hari sudah petang"; itu berarti sudah mulai gelap atau bahkan sudah gelap. Akan tetapi, para murid dan Yesus tetap melanjutkan pelayaran. Di tengah pelayaran yang gelap itu, mengamuklah taufan dan ombak, sehingga perahu mereka terombang-ambing di tengah kekacauan air laut. Tak ada lagi kosmos atau keteaturan; yang ada kekacauan, kaos, panik dan ketakutan. Sialnya lagi, Yesus tidur. 

Situasi itu dialami orang-orang Kristiani awali, yang kepada mereka penginjil Markus memberitakan Injil. Mereka dikejar-kejar, dibunuh, tak ada ketenangan; yang ada kekacauan, kaos, ketakutan; mereka berada di malam-malam yang gelap; mereka bagaikan kapal yang terombang-ambing di tengah lautan kehidupan, tanpa tujuan, tanpa harapan. Dan Tuhan sepertinya diam. Bukankah Injil ini berbicara tentang hidup orang-orang Kristiani khususnya di Syria dan Irak sekarang ini? Mereka bagaikan kapal yang terombang-ambing di tengah lautan yang gelap, tanpa harapan, tanpa masa depan; sebagian dipenggal dan ditembak oleh ISIS. Betapa gelap malam-malam yang harus mereka lewati. Apakah Tuhan juga sedang tidur? Tak mudah menjawabnya.

Dan bukankah Injil ini juga berbicara secara personal kepada kita? Menyingkap kisah-kisah dan perjalanan hidup kita? Kapal kita pun tak jarang terombang-ambing di tengah laut kehidupan yang gelap, tanpa tujuan. Seringkali kita sudah berjuang sekuat tenaga supaya berhasil dalam hidup, tetapi tetap juga gagal; berjuang sekuat mungkin supaya hidup damai dan tenang, tetapi tetap juga datang masalah, bahkan ada yang sampai hancur berantakan. 

Akan tetapi, di saat kapal para murid terombang-ambing itu, Yesus bangkit dan menghardik air laut yang kaos itu, lalu jadilah tenang dan teduh sekali. Tuhan Yesus menciptakan kosmos kembali, membarui kehidupan yang sedang kacau. Kehidupan pun berjalan normal, tenang dan damai. Masalah selesai bukan karena kekuatan para murid itu, melainkan karena kekuatan Dia yang mengatasi segala-sesuatu, yaitu Tuhan Yesus. Rupanya, meskipun nampaknya tidur, Yesus tetap berkuasa menyelamatkan. Atau lebih tepat dikatakan, Tuhan tidak tidur. 

Beriman itu kadang melelahkan, lelah menunggu waktu Tuhan, karena Dia datang untuk menolong kita sesukaNya, sesuai dengan waktuNya. Tapi satu hal yang pasti, Dia pasti datang untuk menyelamatkan kita dari kegelapan dan keterombang-ambingan hidup kita. Beriman itu berarti: tidak memaksa Tuhan, melainkan membiarkan Dia bekerja sesuai dengan kehendakNya. Untuk itu, butuh iman yang teguh... "Ya Tuhan, tambahkanlah iman kami!"


Madrid, 20 Juni 2015
Hari Minggu Biasa XII
Pastor A.C. Lamtarida Simbolon, O.Carm 

Minggu, 14 Juni 2015

Petani Buta

Petani buta


Ayah ibuku adalah petani. Setiap tahun kami menanam padi. Padi kami tanam di tanah yang baik, sudah diolah dan digemburkan. Setelah itu, padi berproses di dalam tanah, dari hari ke hari, hingga panen tiba. Para petani tidak tahu soal proses pertumbuhan dan perkembangan itu. Yang mereka tahu ialah menanam, menyiangi, memupuk, berharap, pasrah, memanen.

Hari ini kita mendengarkan Injil tentang petani yang menaburkan benih.  Penabur itu ialah Yesus, benih itu ialah Sabda dan tanah itu ialah kita. Aku ibaratkan Yesus itu seperti “petani buta”, yang tidak melihat tanah itu baik atau tidak, subur atau tidak; tidak seperti ayah-ibuku atau petani pada umumnya, yang harus menyiapkan tanah dan menanam di tanah yang baik.

Tuhan Yesus itu menaburkan Sabda dan kasih-Nya bukan hanya di dalam hati orang-orang yang baik, melainkan di dalam hati semua orang. Lalu benih itu bertumbuh, berkembang sesuai dengan alam, cuaca, jenis tanah, dan juga kemampuannya untuk berjuang hingga menghasilkan buah. Tuhan tidak pernah bisa memaksa manusia untuk menghasilkan buah melimpah. Tuhan itu hanya bisa berharap dan pasrah.

Dua hal sederhana yang saya renungkan dari Injil hari ini. Pertama, menjadi petani buta seperti Yesus, yang menaburkan benih-benih kebaikan dan kasih tanpa memandang “jenis tanah”, baik atau tidak; tanpa terlalu sibuk dengan berbagai pertimbangan, analisis, studi ilmiah tentang konteks, tantangan dan peluang pewartaan dsb.

Benih-benih Sabda dan iman yang kita taburkan di tempat kerja, di lingkungan masyarakat yang beraneka ragam jenisnya, di tengah keluarga dan komunitas, mungkin kelihatannya tanpa hasil, tapi biarlah Tuhan yang mengurus dan membuatnya berhasil. Yang paling penting bagi kita para petani buta ialah menaburkan kebaikan di mana pun, baik atau tidak baik waktunya.

Kedua, petani buta sangat mengerti apa itu BERHARAP dan BERPASRAH. Harapan dan kepasrahan adalah bagian yang sangat penting dalam diri seorang petani, terutama petani buta. Berharap bahwa Tuhan memberikan hasil yang baik sangat penting. Berharap juga berarti beriman.

Akan tetapi, di samping berharap, sangat penting juga  berpasrah. Harapan yang menggebu-gebu tanpa sikap pasrah, akan membuat orang menjadi stres dan putus asa, jika yang diharapkannya tidak terjadi. Berpasrah berarti beriman, membiarkan Tuhan melakukan kehendak-Nya dalam semua pekerjaan kita. Jika berhasil, puji Tuhan dan kita gembira. Jika tidak berhasil, terima kasih Tuhan atas pengalaman itu, dan kita tidak terlalu kecewa. Menjadi seperti petani buta membuat kita gembira dan bersyukur dalam hidup.


Salamanca-Spanyol, Minggu 14 Juni 2015
Pastor Lamtarida Simbolon, O.Carm


Minggu, 07 Juni 2015

Curación a través de la Eucaristía

Curación a través de la Eucaristía

Celebramos hoy el Santísimo cuerpo y sangre de Cristo. Nuestra iglesia católica tiene tantas riquezas y tantas enseñanzas sobre la Eucaristía. Podríamos reflexionar sobre la Eucaristía como banquete, sacrificio, alianza, etc.; depende del punto de vista. En esta solemnidad, a mí me gustaría compartir con ustedes un aspecto pequeño de la Eucaristía: la curación.
La iglesia es una comunidad de pecadores. Todos somos pecadores y tenemos tantas debilidades, enfermedades y tantos dolores. Hemos perdido tantas cosas: la pérdida de intimidad por culpa de la separación; la pérdida del amor por culpa del abandono; la pérdida del hogar por culpa de la crisis y la corrupción, etc. Todos los domingos llegamos a la Eucaristía con el corazón roto por muchas pérdidas, las nuestras y las del mundo. La Eucaristía nos presenta la posibilidad de optar, no por el resentimiento, sino por el agradecimiento. La palabra “eucaristía” significa: acción de gracias.
Para que lo podamos entender más fácil, les voy a explicar cuatro partes importantes de nuestra Eucaristía: ritos iniciales, liturgia de la palabra, liturgia eucarística y rito de conclusión. Primera parte, ritos iniciales. Comenzamos nuestra eucaristía suplicando la misericordia de Dios: Señor ten piedad, Cristo ten piedad, Señor ten piedad. Es el grito del pueblo de Dios, el clamor de todos los contritos de corazón. 
La petición de la misericordia de Dios brota de un corazón que sabe esa imperfección humana, no es una condición fatal de la que somos tristes víctimas, sino el fruto amargo de la decisión humana de decir “no” al amor. Sí, es verdad que somos pecadores, y pecadores sin remedio; parece que todo está perdido, y ya no quedan nada de nuestros sueños y nuestras esperanzas. Sin embargo, se oye una voz:¡Mi gracia te basta! Cuando gritamos Señor ten piedad, Jesús nos da el perdón y la curación por su misericordia.
Segunda parte, liturgia de la palabra. Después de gritar Señor ten piedad, escuchamos la palabra de Dios. La palabra de Dios no es sólo una palabra que debamos aplicar a nuestra vida diaria, sino también una palabra que nos sana en y a través de nuestra escucha, aquí y ahora. Cuando escuchamos el lector lee la palabra de Dios, es decir Dios mismo nos habla; la presencia real de Dios. La palabra tiene un poder curativo y destructor. 
Cuando alguien me dice: Te quiero o te odio, no sólo recibo una información. Estas palabras provocan inmediatamente algo en mí. Estas palabras tienen poder de sanarme o de destruirme. Cuando Jesús nos habla,debemos escucharle con todo nuestro ser, confiando en que la palabra que nos creó también habrá de sanarnos.
Tercera parte, liturgia eucarística. En la liturgia eucarística, Jesús nos da su cuerpo y su sangre. Jesús lo da todo. Dios se nos hace presente en el pan y en el vino en la Eucaristía. Dios no sólo se encarnó por nosotros hace muchos años en un país lejano, sino que también se hace alimento y bebida para nosotros en este momento de la celebración eucarística, justamente donde estamos reunidos en torno a la mesa. Dios no se guarda nada; Dios lo da todo. Éste es el misterio de la misericordia de Dios. El cuerpo y la sangre de Cristo nos purifica y nos da la vida eterna.

La última, rito de conclusión. Al final, Jesús nos manda a ir y anunciar el evangelio. El final no es la comunión, sino la misión. Después de recibir la curación, el perdón, la gracia y la misericordia de Dios, tenemos que hacer nuestra misión en el mundo, en la vida diaria; ser testigos dela misericordia de Dios y compartir lo que hemos recibido en la Eucaristía. Así es la belleza de nuestra celebración eucarística. Que Dios nos ayude a vivir la vida eucarística en nuestra vida cotidiana. ¡Así sea!


Padre Andreas C. Lamtarida Simbolon, O.Carm

Salamanca-España, 6 de junio de 2015
Homilía en la solemnidad el Cuerpo y la Sangre de Cristo, 7 de junio de 2015