Minggu, 15 Maret 2015

BATAHI (cerpen)


Tigor! Kauingatkah malam itu? Malam saat kerbau kesayanganmu hilang. Kau tak tidur semalaman. Berulangkali kau pergi ke kandang, melihat siapa tahu kerbaumu pulang. 
Esok harinya, kau berlari saat remang pagi. Sendiri! Kaucari di ladang-ladang padi. Kau telusuri tepi-tepi sungai. Tak juga kau temui hingga sore hari. Setelah lelah, kaubaringkan tubuhmu di atas batu. Kau tertidur. Seorang kakek tua datang dan berkata, “Nak, bawalah batahiini. Inilah alatmu sebagai seorang gembala.” Kau terbangun. Kau pegang batahi itu. Lalu kau bawa pergi. 
Kau berjalan perlahan ke arah Timur. Tiba-tiba kaulihat kerbaumu. Kaupecut dengan batahi itu. Kerbaumu tak melawan sedikit pun. Kau bawa pulang. Menjelang senja kau tiba di rumah. Ibumu berlari ke arah pintu dan memelukmu. Diambilnya beras. Ditaruh di kepalamu. “Pir ma tondim, anakku. Kukira kau sudah hilang beserta kerbaumu.” 
Tigor! Semenjak itu kau teguh sebagai gembala. Kau lintasi hujan, kau lewati terik mentari. Kau melanglang di hari siang, kau terobos gelapnya malam. Demi kerbaumu! “Aku ingin jadi gembala ulung,” katamu suatu kali. Ibumu membelimu kerbau betina. Kerbau itu beranak! Berpinak!
Suatu hari kau terheran-heran. Jampalan itu penuh dengan kerbaumu. Hanya dalam lima tahun. Kerbaumu sudah hampir lima puluh. Kau dijuluki “raja parmahan”. Setiap kerbau yang kau gembalakan, beranak-berpinak. Dan satu hal yang tak pernah kau lupa: batahi itu. Ke mana pun kau pergi menggembalakan kerbaumu, kau bawa batahi itu. Sekali kau ayunkanitu, semua kerbaumu menurut. 
Tigor! Raja parmahan! Teman-temanmu heran melihatmu. Sementara mereka main seruling sambil menggembalakan kerbau, kau membaca buku-buku. Sementara mereka pergi mencuri rambutan dan buah-buahan lain, kau duduk di atas kepala kerbaumu sambil melahap buku-buku sastra Batak sampai Inggris. Hampir setiap hari bukumu berganti. Yang tipis dan yang tebal. Seperti kerbau-kerbaumu melahap rerumputan, demikian juga kau melahap buku-bukumu. 
Suatu kali kau kumpulkan teman-temanmu. Kau bercerita. Dan kauingatkah? Setiap kali kau mulai bercerita, teman-temanmu terdiam mendengarkan. Tak ada suara apapun. “Ada suatu kisah,” katamu. “Ada seorang gembala mempunyai seratus ekor kambing. Suatu hari seekor kambingnya hilang. Dia meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor kambingnya, demi mencari yang satu ekor. Dan ketika dia menemukan yang seekor itu, dia berpesta dengan teman-temannya, karena dia begitu gembira menemukan yang satu itu. Bagaimana pendapat kalian, seandainya kalian gembala itu?” 
Kalian berdiskusi tentang sikap gembala itu. Ada yang setuju dengan gembala itu, ada yang tidak. “Itu gembala bodoh. Daripada hilang yang sembilan puluh sembilan, lebih baik tidak usah dicari yang satu itu,” kata seorang temanmu. Sore menjelang ketika kalian selesai berdiskusi tentang kisah gembala itu. Akhirnya teman-temanmu menerima kesimpulanmu: gembala yang baik harus mencari dombanya yang hilang, bahkan harus rela mengorbankan nyawanya bagi domba-dombanya. Entah dari mana kau dapat kebijaksanaan itu. Ah, cerdas memang kau Tigor. Begitulah hari-hari masa kanak-kanakmu kau habiskan. Menggembala, membaca, bercerita, memimpin teman-temanmu! 
Tigor! Tak selamanya hari-harimu indah. Suatu siang kerbau-kerbaumu pergi ke ladang padi. Miliki orang lain! Kau saat itu sedang asyik berkisah tentang domba-domba yang nakal. Belum selesai kau berkisah, pemilik ladang menjerit-jerit menyumpahimu karena kerbaumu menghabiskan padinya. Kau berlari. Kau bawa batahi itu. Sekuat tenagamu kau pecut kerbau-kerbau nakal itu. Kau pecut berkali-kali hingga mereka ketakutan. Kauhukum kerbau-kerbau nakal itu. Tak kau beri makan dan minum dari siang hingga sore. Di terik panas itu kautambat mereka. Menjelang malam, barulah kau beri mereka minum. 
Suatu kali tak kau temukan padang rumput yang hijau. Saat itu memang musim kemarau. Kemarau panjang! Kau kelilingi padang-padang, tak ada ilalang. Kau bawa mereka melintasi tanah gersang. Tak ada air! Di tengah terik itu, kerbau kesayanganmu mengamuk. Dia mengejarmu. Kau terkejut. Sesuatu yang belum pernah terjadi! Kau berlari. Makin dikejar. Dia menandukmu hingga kau tercampak jauh. Kau tak sadarkan diri. 
Menjelang malam kau terbangun. Kau cari batahimu. Tak kau temukan lagi. Kau cari terus. Tak jua kau temukan. Kau lihat sebagian kerbaumu masih tertambat di padang. Kau lepas dan kau bawa pulang. Sesampai di rumah ibumu menangis. Dia bawa beras. “Pir ma tondim, anakku. Kukira kau mati,” katanya padamu. Dia tahu segala yang terjadi tentangmu. 
Esoknya kau hitung kerbaumu. Satu hilang. Kau ingat. Kerbau kesayanganmu! Dia pulalah yang menandukmu kemarin. Cepat-cepat kau berlari ke padang. Di saat kau berlari, masih kau dengar samar-samar suara ibumu, “Tak usah lagi kau cari itu.” Tapi kau tak peduli. Kau berlari. Kau ingat apa yang pernah kau ceritakan di padang itu kepada teman-temanmu, “Gembala yang baik mencari dombanya yang hilang. Gembala yang baik menyerahkan nyawa bagi domba-dombanya.” Kau kelilingi padang-padang tempat kau biasa menggembalakan mereka. Tak ada! Kau susuri tepi-tepi jurang tempat kau biasa mencari rumput. Di salah satu tepi, kau lihat bercak-bercak darah. Sadarlah kau, bahwa kerbaumu itu sudah dimangsa binatang buas. Dan di kejauhan di tebing sana, kau lihat kepala kerbaumu sementara tubuhnya tak ada lagi. Kerbau yang kau sayang itu telah dimangsa binatang. 
Kau baringkan tubuhmu di tepi jurang itu. Batahimu hilang. Hilang pula kerbau kesayanganmu. Dan kau tertidur. Kau melihat seseorang. Kakek tua itu datang lagi. “Mulai saat ini, batahimu ada di dalam hatimu.” Lalu dia menghilang. Kau terbangun. Kau cerna kata-kata itu pelan-pelan. Batahi dalam hati! Oh ya, kau ingat sesuatu. Tujuh hari lalu kau baca buku sastra kuno BatakDi sana kau temui ungkapan ini: “Pamuro so marumbalang, parmahan so marbatahi.”
“Tak mungkin seorang gembala tanpa batahi. Kerbau-kerbau atau kambing-kambing itu akan liar kalau tidak dipecut!” Katamu protes saat kau membaca kata-kata itu. Setelah kau tanya kepada ibumu, barulah kau tahu bahwa pepatah itu berarti: dalam hidup, kita harus aman dan rukun bukan karena ada batahi atau senjata, melainkan karena ada hukum belas kasih di dalam hati. “Kau harus menjadi gembala tanpa menggunakan batahi, anakku.” Begitu nubuat ibumu. Dan kau mengerti apa yang dikatakan kakek tua itu, “Mulai hari ini batahimu ada di dalam hatimu!” 
Tigor! Masa kanak-kanakmu telah tertinggal jauh. Beberapa lama sejak hilangnya batahi dan kerbau kesayanganmu itu, kau masuk seminari. “Aku ingin mencari batahi dalam hati,” tulismu dalam buku harianmu suatu kali. Kau telah menemukannya. Tapi kau juga sadar, bahwa pencarianmu tidak akan pernah berhenti. Kini kau kenakan pakaian gembala. Stola dan kasula! Sekarang semua menjadi jelas bagimu. Kisah-kisah hidupmu semasa seorang gembala di waktu kecil, kini datang dan tergambar jelas di hadapanmu. Kakek tua itu luar biasa. “Mulai sekarang, batahimu ada di dalam hatimu.” Ya, di kedalaman hatimu, di situlah terletak cinta kasih. Itulah batahimu! Itulah tali pecutmu! 
Jangan lupa, Tigor! Mungkin pada suatu saat domba-dombamu akan lari meninggalkanmu. Kejarlah mereka dan bawalah batahiyang ada dalam hatimu itu. Bawalah mereka pulang. Ingat saat kau kecil dulu, saat mencari kerbaumu yang hilang itu. Pada suatu saat domba-dombamu itu akan melawanmu. Pecutlah mereka dengan batahi cinta kasih yang ada dalam hatimu itu! Dan bila suatu saat ada singa yang ingin memangsa domba-dombamu, ingatlah apa yang kau kisahkan dulu kepada teman-temanmu, “Gembala yang baik menyerahkan nyawa demi domba-dombanya.” Hanya kalau kau miliki batahi dalam hati itu, maka kau akan mampu menyerahkan nyawamu bagi domba-dombamu, Tigor! 
Jakarta, 20 Nopember 2012

catatan:
Batahi (Batak Toba): tali pecut yang dipakai seorang gembala untuk memecut hewan gembalaannya.
Pir ma tondim (Batak Toba): semoga rohmu kuat dan teguh. 
Jampalan (Batak Toba): padang penggembalaan. 
Raja parmahan (Batak Toba): raja penggembala.
Pamuro so marumbalang, parmahan so marbatahi (Batak Toba): penjaga padi tanpa alat atau senjata, penggembala tanpa alat pecut.

ANAK PADANG ILALANG (cerpen)


Masih segar dalam ingatanku, masa kanak-kanakmu yang kau lalui bersamaku, di rumah bambu, dua puluh tahun lalu. Tiada hari yang kau lewatkan tanpa memburu belalang, di padang ilalang. Di remang pagi kau pergi, di terang siang kau pulang. Diam-diam kau pergi, diam-diam kau kembali.

Siang hari ketika aku menanak nasi, kau kembali, membawa pulang belalang. Kau bakar, lalu kita makan. Setelah makan siang, kita ke ladang. Kadang kau bantu aku bekerja, dan kadang kau bermain layang-layang. Malam hari kita jalani berdua, tanpa ayahmu. Kadang kau minta aku mendongeng, atau bercerita tentang ayahmu.

Saat kau minta aku mendongeng, aku lakukan. Saat kau minta aku bercerita tentang ayahmu, aku mengalihkan pembicaraan. Setelah mendengarkan cerita, kau terlelap. Sekitar jam enam pagi aku terbangun, dan kau sudah pergi. Begitulah roda kehidupan kita jalani setiap hari, di usiamu yang masih belia.

Tahun kedelapan usiamu, kau tak bisa lagi mencari belalang di pagi hari, karena setiap pagi kau harus sekolah. Tapi sepulang sekolah kau tetap pergi mencari belalang. Aku memberimu nama “anak padang ilalang”. Nama itu berasal dari ayahmu. Sebelum ia pergi, ia berpesan, ‘Kelak anak kita itu akan menjadi anak padang ilalang.’

Suatu saat, ketika kau sudah beranjak kelas enam, terjadilah itu. Saat kita menyiangi padi di ladang, kau termenung di atas tungku pohon lalu tiba-tiba bertanya, ‘Bu, banyak sekali ilalang ini. Lihat!, padi kita tidak berkembang,’ katamu. Lalu kau makin garang mencabuti ilalang, mengumpulkannya lalu mencincangnya sampai halus. ‘Aku akan mencabut semua ilalang itu, supaya mereka tidak tumbuh lagi,’ katamu. ‘Nak, sampai kapan pun kau takkan dapat membunuh semua ilalang. Mereka akan selalu tumbuh, bersamaan dengan padi,’ kataku.

Lalu, tibalah saat menghalau burung, ketika padi kita sedang mengeluarkan bulir-bulirnya. Sore itu sekumpulan belalang datang, terbang dari padang ilalang dan hinggap di ladang padi kita. Awalnya kau senang sekali. Kau tangkap satu per satu. Kau masukkan ke karung. Kau bawa pulang. Kau bakar. Malam itu, kau makan belalang banyak sekali.

Esoknya kau pergi sekolah. Dan aku ke ladang. Kulihat padi kita, sebagian sudah habis dimakan belalang. Siang kau datang. Kau lihat padi kita habis dimakan belalang. Lalu kau menangkapi belalang itu, banyak sekali, lalu kau bunuh. Akhirnya kau capek sendiri. Sore hari kau tak membawa seekor belalang pun ke rumah.

Pagi-pagi keesokan harinya kau berlari ke ladang padi itu. Dan aku datang. Kau menangis. Kau lihat padi kita hampir habis. ‘Bu, kita makan apa nanti,’ katamu sambil menangis sesenggukan. Aku merangkulmu. Kuajak kau pulang.

Begitu sampai di rumah, kau cari api dan pedang. ‘Aku akan membakar semua belalang itu, dan menebas semua ilalang tempat mereka itu berasal,’ katamu lalu kau berlari. Menjelang malam kau datang, kelelahan, membawa pulang pedang. Malam itu, kita sulit sekali tertidur. Kau gelisah sekali. Kadang kau menangis. Tengah malam, kau berkata, ‘Mengapa belalang-belalang itu menghabiskan padi kita? Tidakkah mereka tahu kalau kita ini miskin?’ Kau terdiam sejenak. ‘Aku takkan mau lagi makan belalang. Belalang itu jahat.’

Dan sekarang, masa kanak-kanakmu sudah lama berlalu. Masihkah kau berburu belalang dan ilalang? Sekarang, Anakku, aku sudah tua. Aku kini menanti senja, dan aku akan berlabuh. Aku rindu padamu. Pulanglah, Nak!

***
Ibu, di pantai ini aku berdiri, memandang senja. Di sini aku sendirian. Aku teringat padamu. Ibu pasti sendirian di rumah bambu kita, mengarungi hari tua. Ingin rasanya aku pulang, Ibu. Kuingin melihat garis-garis kehidupan di wajahmu yang renta. Kuingin merangkulmu.

Aku teringat juga masa kanak-kanakku, yang dulu kulalaui bersamamu. Aku teringat rumah, ladang, belalang dan padang ilalang. Aku teringat malam setelah padi kita dihabiskan belalang. Ibu duduk di dekat perapian, tegar, kadang-kadang berdoa. Sedangkan aku duduk di sampingmu, sambil melancarkan pertanyaan-pertanyaaan. ‘Mengapa mesti ada belalang? Mengapa mesti mereka habiskan padi kita?’

Ibu menjawab pelan, ‘Nak, kalau tidak ada ilalang atau belalang, kita tidak menghargai padi. Ilalang ada agar kita berjuang menyisihkan padi darinya, supaya padi itu berkembang.’ Dulu, aku tidak bisa menerima apa yang Ibu katakan itu. Sekarang, setelah dua puluh tahun berlalu, aku semakin mengerti. Ketika aku bertambah besar, tahulah aku bahwa banyak sekali ilalang dan belalang kehidupan. Apalagi setelah malam ketika Ibu membuka tabir itu, saat Ibu bercerita tentang ayah.

Ibu bilang bahwa ayah itu orang jujur, tulus, sangat rajin berusaha dan berdoa. Tak pernah menyakiti orang. Namun suatu hari, segerombolan orang datang ke rumah. ‘Mereka menyeret ayahmu seperti binatang. Hanya karena ayahmu tak mau memberi sepertiga hasil cengkehnya sebagai “uang keamanan”. Begitulah, saat itu kami kalah. Kalah karena benar.’

Saat itu darahku mengalir deras. Ibu tak mau memberitahuku siapa pembunuh ayah itu. ‘Jangan, Anakku. Tidak ada gunanya balas dendam. Ibu sudah memaafkan mereka. Dan kamu pun, harus belajar memaafkan.’

‘Tidak, Ibu. Aku akan mencari dan menghabisi mereka.’ Dari situlah awalnya aku bercita-cita menjadi tentara. Aku ingin menembak mati para pembunuh itu. Seperti biasanya, Ibu tak kuasa melarangku. Kita jual ladang, lalu aku melamar tentara, dan menang. Dan aku tertawa.

Ketika aku sudah mengetahui para pembunuh itu, aku pergi ke rumahnya. Kukenakan seragam tentara serta sepucuk pistol kugenggam. Jari telunjukku memegang pelatuknya, namun terjadilah itu. Dia bersembah sujud padaku sambil menangis tak henti-hentinya. Istrinya juga menangis tak henti-henti. Dan tiba-tiba anaknya yang berumur kira-kira tiga tahun menjerit, berlari memeluk ayahnya. Pada saat itu, pistolku jatuh, Ibu. Aku begitu takut, sangat takut. Jantungku berdegup sangat kencang. Keringat mengalir deras di wajahku.

Kuambil pistolku, lalu aku pulang. ‘Jangan pernah menginjak-injak musuh yang sudah minta maaf! Ampunilah dia! Maka kau pun akan diampuni kelak, jika kau bersalah entah kepada siapa pun,’ kata kakek suatu kali. Dan aku mengampuni mereka. Malam-malam setelah peristiwa itu, aku merasakan ketenangan, Ibu. Hantu itu sudah pergi dari diriku, hantu balas dendam. Dan akhirnya, kutinggalkan seragam tentaraku. Sejak itulah aku pergi jauh. Kutinggalkan Ibu sendirian. Aku melang-lang buana sampai ke mana-mana. Satu tahun aku di Kalimantan, setengah tahun di Jambi, dua tahun di Papua, empat tahun di Yogya. Yah…aku semakin mengerti Ibu. Di mana-mana selalu ada belalang dan ilalang kehidupan.

‘Kau takkan sanggup membunuh semua ilalang dan belalang. Mereka itu akan tetap ada sampai kapan pun. Yang penting, kau menyisihkan padi agar jangan terhimpit, supaya padi itu berkembang, dan hasilnya melimpah,’ katamu dulu. Aku setuju padamu, Ibu. Tugas kita adalah hidup di tengah-tengah dunia yang jahat tanpa kita ikut menjadi jahat. Tugas kita ialah mempengaruhi sebanyak mungkin orang untuk berbuat baik. Justru karena ada kejahatan, kita menghargai kebaikan.

‘Ada hal-hal atau tindakan yang tak terbatalkan di masa lampau,’ kata seorang teman suatu kali. ‘Terhadap tindakan itu, kita hanya dapat memaafkan. Sedangkan di masa depan, ada seribu satu tindakan yang tidak dapat diduga. Terhadap tindakan itu, kita hanya dapat berjanji. Memaafkan dan berjanji, itulah dua kemampuan yang secara serentak ada dalam diri manusia.’ Barangkali, pembunuhan ayah itu suatu tindakan yang tak terbatalkan. Aku telah mengampuni pribadi pembunuh itu. Kejahatannya tetaplah kejahatan. ‘Balas dendam akan melahirkan kekerasan terus-menerus. Satu-satunya cara untuk memutus rantai kekerasan itu ialah jalan pengampunan,’ tambah temanku itu.

Terima kasih Ibu, karena Ibu telah memberikan pelajaran-pelajaran kehidupan padaku saat aku masih kecil. Sekarang, barulah aku semakin mengerti. Dari seluruh nasihatmu, inilah yang paling melekat di dalam hatiku: ‘Ampunilah maka kamu akan diampuni.’ Ibu, kini aku datang, tunggulah aku!

Malang 2008

Sabtu, 14 Maret 2015

LUKISAN DI KAMAR CHRISTA (Percik Prapaskah 4)


Namanya Christa (bukan nama sebenarnya). Di remang malam itu ia terisak-isak. “Aku ingin meninggalkanmu, Tuhan Yesus.” Ucapnya. “Tuntutan-Mu sangat berat. Aku tidak bisa mengampuni orang yang menyakitiku sampai sekarang. Setiap kali aku mendoakan Bapa Kami, aku tidak sanggup mengucapkan ‘seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.’ Aku gagal mengampuni dan mengasihi, Tuhan. Aku hanya bersembunyi di balik Kekristenanku. Untuk apa aku menjadi Kristiani kalau aku tidak bisa melakukan ajaran-Mu?” Beberapa minggu kemudian, Christa meninggalkan imannya.

Tidak banyak dari kita seperti Christa: berani meninggalkan imannya karena tidak sanggup melakukan ajaran Yesus. Apakah Christa terlalu perfeksionis? Apakah ia salah memahami ajaran Yesus? Tidak! Justru dia sangat memahami, bahwa menjadi orang Kristiani itu tuntutan utamanya MENGASIHI; dan wujud nyata dari mengasihi ialah MENGAMPUNI. Christa tahu persis, orang yang tidak bisa mengampuni tidak bisa mengasihi dengan tulus. Ia tidak mau hidup dalam kepura-puraan dan kepalsuan. Ia mau jujur terhadap Tuhan dan terhadap dirinya sendiri.

Tuhan sangat tahu bahwa penghuni dunia ini adalah orang-orang berdosa. Tapi apa yang dia lakukan? Ia mengampuni dan mengasihinya. Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal, supaya dunia ini tidak binasa, melainkan selamat dan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Meskipun demikian, manusia itu tetap juga susah mengampuni dan mengasihi. Dan khirnya, begitulah terus kehidupan. Menjadi Kristiani menjadi beban atau formalitas. Beban, karena merasa belum mampu melakukan ajaran Tuhan. Formalitas, bagi orang yang tidak peduli akan hidup rohaninya; yang penting beragama, atau yang penting ke gereja. Sampai kapan? Mungkin ketika sudah mati baru kita sadar. Tapi apa artinya? Semua sudah terlambat.

Mengampuni membuat kita gembira dalam hidup. Mengampuni keluarga, orang-orang yang menyakiti kita, daan juga mengampuni masa lalu, membuat hidup kita ringan. Tenang. Gembira. Dan akhirnya, mengampuni membuat kita bisa total mengasihi. Total melakukan karya-karya baik dalam hidup kita. Total menjadi ibu rumah tangga. Menjadi ayah. Total menjadi imam, biarawan-biarawati. Total belajar. Bekerja. Total dalam kehidupan. Dengan demikian, hidup kita menjadi kabar baik bagi orang lain. Hidup kita menghasilkan buah-buah yang baik bagi keluarga, sesama, rekan, tetangga, dan juga bagi dunia.

Tiga tahun setelah meninggalkan imannya, Christa menemani saudaranya, Christian, yang sakit keras menjelang ajalnya. Cristian tiap hari menjerit, menangis, meratapi segala sikapnya dan kesalahannya terhadap orang tuanya. Maklum, dia tidak bisa memaafkan dan tidak mau minta maaf kepada ayahnya, hingga ayahnya meninggal. Dan akhirnya Christian meninggal tanpa berhasil minta maaf dan memaafkan orang tuanya. Semua sudah terlambat. Hari-hari sesudahnya, Christa kembali kepada imannya, kembali kepada Yesus. Peristiwa itu telah mengubah hidupnya seratus delapan puluh derajat. Sejak hari itu, ia mengampuni dan mengasihi secara total. Di kamarnya ada satu lukisan, yang selalu ia baca sebelum tidur dan sesudah bangun, “Saat aku belum bisa mengampuni, aku belum menjadi Kristiani.”


Salamanca, 14 Maret 2015
Lamtarida Simbolon, O.Carm

Senin, 09 Maret 2015

PERANG


Pagi yang remang
Bunyi genderang
Mulai perang
Siapa akan menang?

Tak sedetik pun lengang
Meski musuh tak menyerang
Berjaga di gelanggang
Hingga malam tenang



Salamanca, 26 November 2014

Sabtu, 07 Maret 2015

RUMAH TUHAN (Percik Prapaskah 3)


Di gereja kecil di desaku, kuhabiskan masa-masa sekolah mingguku. Betapa aku bersukacita, ketika kakak-kakakku berkata kepadaku, “Mari kita pergi ke rumah Tuhan.” Di situ aku bermain, bernyanyi, berdoa dan mendengarkan firman Tuhan. Setelah menjadi pastor, setiap kali cuti selalu kuusahakan merayakan misa di rumah Tuhan itu. Ada suatu kedamaian saat merayakan misa di gereja kecil nan sederhana itu.

Ketika bertugas di Jakarta, aku melayani di gereja yang sangat besar, dengan jumlah umat seribu lebih setiap kali misa. Ada suatu kekaguman yang selalu mengusik hatiku: mengapa gereja ini selalu penuh? Apa sebenarnya yang mereka cari di sini? Dan sekarang, aku berada di kota Salamanca di Eropa ini, dengan katedralnya yang amat besar dan megah, dengan gereja-gerejanya yang antik dan penuh sejarah. Setiap kali merayakan misa, ada suatu tanya yang mengusik hatiku: mengapa bangku-bangku gereja ini kosong?

Apa sebenarnya yang lebih penting dari gedung gereja? Yesus bilang, “Rombaklah Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Orang Israel selalu membanggakan Bait Allahnya yang megah itu, tapi mereka sendiri tidak mengenali Tuhan yang sudah hadir dalam diri Yesus. Yesus mau mengatakan, gedung itu hanyalah sarana. Yang paling utama adalah bertemu dengan Tuhan. Dan sekarang, Tuhan itu sudah hadir dalam diri Yesus, Bait Allah yang sejati.

Kita memang membutuhkan gedung gereja untuk beribadah, untuk merayakan iman kita. Akan tetapi, ada rumah Tuhan yang jauh lebih penting dari gedung-gedung itu ialah Yesus sendiri. Maka ketika orang telah menemukan rumah Tuhan yang sejati itu, ia tidak pusing apakah gereja itu megah atau sederhana. Dan yang sangat penting, setiap hari ia masuk ke dalam rumah Tuhan itu, yang berada di dalam hatinya sendiri. Hanya orang yang biasa masuk ke dalam ruang hatinyalah yang bertemu Tuhan setiap hari.

Jika ia tidak berjumpa dengan Tuhan di ruang hatinya, barangkali hati itu dipenuhi “pedagang-pedagang”, dipenuhi keinginan-keinginan akan harta, barang, nafsu, kuasa dan berbagai kenikmatan lainnya. Orang yang terus-menerus sibuk dengan berbagai keinginan itu, sulit sekali berjumpa dengan Tuhan di dalam hatinya. Maka melalui Injil hari ini (Yoh 2:13-25), mari kita biarkan Yesus membersihkan ruang hati kita, mengusir segala keinginan tak teratur dari dalamnya.


Lamtarida Simbolon, O.Carm
Salamanca, 7 Maret 2015